Hobi Nongkrong Dapat Mengurangi Muru'ah (Akhlak Muslim) dan Rasulullah Membenci Orang yang Begadang dan Nongkrong Larut Malam
Nongkrong di pinggir jalan”. Kegiatan semacam ini banyak ditemui di tengah masyarakat, tidak peduli mereka yang hidup di kota maupun yang di desa, rasanya yang namanya hobi nongkrong di jalan, sudah menjadi kebiasaan masyarakat pada umumnya. Adakalanya, mereka terbiasa nongkrong di kedai-kedai kecil semacam warung kopi, atau di café-café Mal, di taman-taman rekreasi, di halaman depan rumah, serta di tempat-tempat umum lainnya.
Hobi nongkrong itu hakikatnya kurang baik bagi seorang Muslim, sekalipun bukan sesuatu yang diharamkan dalam Islam, namun kebiasaan nongkrong itu dapat mengurangi muru’ah (kredibilitas akhlaq). Karena itu, hendaklah umat Islam meminimalisir kebiasaan nongkrong dipinggir jalan.
Namun, jika karena suatu sebab, ada yang merasa belum mampu meninggalkan hobi nongkrongnya, maka minimal harus mengetahui aturan yang telah diajarkan oleh Nabi Muahammad SAW sebagai berikut.
Abu Sa’id Al-Khudri RA memberitahukan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jauhilah oleh kalian duduk-duduk nongkrong di jalanan.” “Ya Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan tempat duduk kami (di pinggir jalan) yang biasa kami gunakan untuk berbincang-bincang,” kata sebagian shahabat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jika kalian tetap duduk di sana, maka penuhilah hak jalan itu.”
“Apakah hak jalan itu, ya Rasulullah?” kata para shahabat tersebut.
“Pejamkanlah mata (dari wanita dan segala yang haram dilahat), buanglah kotoran (pada tempatnya), jawablah salam, serta hendaklah menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran,” papar Rasulullah SAW. (HR. Bukhari dan Muslim).
Abu Thalha Zaid bin Sahl menginformasikan bahwa ketika ia dan para shahabat lain duduk di halaman rumah di pinggir jalan, Nabi Muhammad SAW menghampirinya, dan bersabda,“Kenapa kalian duduk di pinggir jalan? Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan!”
“Kami duduk di sini sama sekali tidak mengganggu orang, kami di sini berbincang-bincang tukar pikiran,” jawab seorang shahabat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalau begitu penuhi haknya, yaitu pejamkanlah mata, jawablah salam, dan berbicaralah yang baik.” (HR. Muslim)
Rasulullah Membenci Orang yang Begadang dan Nongkrong Larut Malam?
Anak remaja zaman now sekarang ini Kebanyakan mereka mengatakan bahwa tren nongkrong hingga larut malam ini sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan kehidupan sosial dan pergaulan. Ada juga yang berpendapat “sayang aja kalo malam cuma digunakan untuk tidur tanpa nongkrong”. Memang sih, tren ini terdengar sangat keren. Namun tahukah bahwa sesungguhnya ada hadits dimana Rasulullah membenci trend semacam itu.
Rasulullah membenci ngobrol tidak berfaidah setelah sholat Isya’
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلاَمٍ، قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ، قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ، عَنْ أَبِي الْمِنْهَالِ، عَنْ أَبِي بَرْزَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
Dalam hadits riwayat Bukhari 568 diatas dijelaskan bahwa sungguh Rasulullah membenci tidur sebelum waktu isya dan berbicara setelahnya. Hal ini menurut para alim ulama sebagai landasan atas tidak disukainya trend nongkrong yang banyak terjadi sekarang. Tentu hal ini dituturkan bukan tanpa alasan sama sekali. Ada beberapa hal yang menjadi alasan tidak bagusnya acara nongkrong ini.
Alasan pertama adalah karena kegiatan nongkrong larut malam ini ditengarai kebanyakan tidak memberikan faidah apapun. Kebanyakan orang yang nongkrong dan begadang larut malam hanya ngobrol-ngobrol tidak jelas arah. Bahkan lebih buruk lagi bila tempat nongkrong tersebut menyajikan khamr dan minuman atau makanan yang haram dan dilarang oleh Allah. Tentu hal itu malah akan menambah dosa.
Alasan kedua adalah karena kegiatan nongkrong sampai larut malam biasanya akan membuat orang yang melakukannya lalai dalam melakukan sholat tahajud maupun sholat subuh yang merupakan shalat wajib. Kasus ini sering sekali terjadi, karena asyik nongkrong sampai jam 3 pagi, biasanya ketika pulang ke rumah akan langsung tidur dan enggan melakukan sholat tahajud maupun menunggu waktu subuh tiba. Lalu apa bedanya kita dengan orang-orang kafir bila sholat saja kita sangat lalai?
أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ، قَالَ أَنْبَأَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى، عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ وَاقِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “ إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Sesungguhnya perjanjian diantara kami dan mereka (kaum kafir) adalah shalat. Siapapun yang meninggalkan sholat maka sungguh dia telah kafir. (H.R Nasa’i 463)
Begadang boleh asalkan ada hajat atau keperluan yang harus dilakukan
Kebencian Rasulullah tentang perilaku begadang maupun pada trend yang sekarang disebut sebagai nongkrong itu tidak berlaku secara mutlak. Ada pengecualian yang ada didalamnya. Para ulama menuturkan bahwa kegiatan begadang atau nongkrong tersebut boleh saja dilakukan selama memang ada hajat atau keperluan yang harus dilakukan. Misalnya begadang untuk mengerjakan tugas atau urusan pekerjaan. Maka itu diperbolehkan. Semoga bermanfaat!
Penulis: Muhammad Syaiful