Sistem Evaluasi



Nama: Muhammad Syaiful
Nim: 11901124
Kelas: PAI 4B
Judul Bacaan: Sistem Evaluasi

Laporan bacaan dari tema sistem evaluasi dari sumber jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan, Penulis Akhmad Riadi. Dosen Tetap Pada Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Volume 15 No.27 April 2017, Universitas Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur

Link Jurnal: https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/ittihad/article/view/1593/1162

Sistem evaluasi pembelajaran sangat berperan penting untuk dunia pendidikan bagi pendidik dan peserta didik, maka pembahasan ini harus banyak di ketahui oleh para pendidik untuk mengetahui langkah-langkah yang efektif dan efisien dalam sistem evaluasi sistem pembelajaran. Saya akan memaparkan pembahasan sistem evaluasi pembelajaran sesuai di sumber jurnal tersebut terdapat Pengertian sistem evaluasi pembelajaran yaitu Evaluasi berasal dari bahasa Inggris yaitu evaluation. Menurut Mehrens dan Lehmann yang dikutip oleh Ngalim Purwanto, evaluasi dalam arti luas adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (Ngalim Purwanto, 2004; 3). Hubungan dengan kegiatan pengajaran, evaluasi mengandung beberapa pengertian, di antaranya adalah: a) Menurut Norman Gronlund, yang dikutip oleh Ngalim Purwanto dalam buku Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan keputusan sampai sejauh mana tujuan dicapai oleh Siswa

Jadi menurut pemahaman saya dengan pembahasan sistem evaluasi pembelajaran yaitu seorang pendidik sebaiknya terlebih dahulu mengetahui sejauh mana keberhasilan mengajar nya tercapai dengan baik agar memperbaiki pelaksanaan proses belajar mengajar, hal ini untuk memudahkan proses evaluasi dalam pembelajaran


Pembahasan tujuan dan fungsi evaluasi pembelajaran di jurnal tersebut yaitu  Dilihat dari fungsinya yaitu dapat memperbaiki program pengajaran, maka evaluasi pembelajaran dikategorikan ke dalam penilaian formatif atau evaluasi formatif, yaitu evaluasi yang dilaksanakan pada akhir program belajar mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar itu sendiri (Nana Sudjana, 1991; 5). Menurut Anas Sudijono, evaluasi formatif ialah evaluasi yang dilaksanakan di tengah-tengah atau pada saat berlangsungnya proses pembelajaran, yaitu dilaksanakan pada setiap kali satuan program pelajaran atau sub pokok bahasan dapat diselesaikan, dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik .telah terbentuk. sesuai dengan Tujuan pengajaran yang telah ditentukan (Anas Sudijono, 2006; 23). Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah: a) Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program Pendidikan. b) Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikan nya

Dari pembahasan tersebut yang saya pahami fungsi evaluasi dalam pembelajaran yaitu berfungsi untuk mengukur kemampuan setiap siswa dalam memahami suatu mata pelajaran hal ini bertujuan untuk mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. 



Selanjutnya ke pembahasan teknik evaluasi pembelajaran adalah istilah teknik dapat diartikan sebagai alat. Jadi teknik evaluasi berarti alat yang digunakan dalam rangka melakukan kegiatan evaluasi. Berbagai macam teknik penilaian dapat dilakukan secara komplementer (saling melengkapi sesuai dengan kompetensi yang dinilai. Dalam konteks evaluasi hasil proses pembelajaran di sekolah dikenal adanya 2 macam teknik, yaitu teknik tes, maka evaluasi dilakukan dengan jalan menguji peserta didik, sedangkan teknik non test, maka evaluasi dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik.

Teknik tes
Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik. berupa pertanyaan-pertanyaan atau perintah perintah oleh testee sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku dengan nilai-nilai yang dicapai oleh testee lainnya atau dibandingkan dengan nilai standar tertentu


Jadi teknik tes menurut pemahaman saya yaitu menggunakan tes dalam bentuk pertanyaan, kuis, ulangan harian dan ulangan semester, ketika menggunakan teknik tes tersebut hal ini guru bisa mengetahui kemampuan tiap individu peserta didik dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan mengulas kembali daya ingat mereka dalam belajar di kelas saat proses belajar mengajar ketika guru menjelaskan materi di depan kelas dan belajar dirumah,kebanyakan sekolah di Indonesia ketika ingin evaluasi lebih banyak menggunakan teknik tes


2. Teknik non tes
Dengan teknik non tes (SuharsimiArikunto, 2002; 27-31), maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik, melainkan dilakukan dengan cara: 1) Skala bertingkat (rating scale) skala menggambarkan suatu kan kepadanya. Tes simulasi digunakan untuk mengukur kemahiran bersimulasi memperagakan suatu tindakan, misalnya praktik simulasi memandikan mayat. Tes kinerja dipakai untuk mengukur kemahiran mendemonstrasikan pekerjaan yang sesungguhnya, misalnya berupa kegiatan tes untuk mengukur kemahiran membaca al- Qur’an. 4) Penugasan adalah suatu teknik penilaian yang menuntut peserta didik melakukan kegiatan tertentu di luar kegiatan pembelajaran di kelas. Penugasan dapat diberikan dalam bentuk individual atau kelompok. Penugasan dapat berupa pekerjaan rumah atau proyek. Pekerjaan rumah adalah tugas menyelesaikan soal-soal dan latihan yang dilakuka peserta didik di luar kegiatan kelas. Proyek adalah suatu tugas yang melibatkan kegiata perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu dan umumnya menggunakan data lapangan.


Dari pemaparan dari pembahasan teknik non tes dapat di katakan tes yang mengukur kemahiran mendemonstrasikan berdasarkan kemampuan nya misalkan mengukur kemahiran membaca al- Qur’an. Sehingga guru memudahkan membedakan peserta didik mana yang mahir dalam membaca al-qur’an dan mana yang belum mahir mahir dalam membaca al-qur’an, dan bisa juga tes praktek lompat jauh dalam mata pelajaran penjaskes, seorang guru membahas materi lompat jauh, dengan langkah-langkah yang sesuai dengan penjelasan guru olahraga nya, guru ini ingin peserta didik di kelas tersebut dapat mempraktekan lompat jauh dan bukan hanya sekedar Memahami dan mengingat akan tetapi dapat mempraktekan atau melaksanakan, jadi semua contoh yang saya jelaskan ini semua teknik non tes hanya berupa praktek atau demonstrasikan 


Selanjutnya pembahasan tentang problematika dalam evaluasi pembelajaran yaitu Guru dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik (feed back) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan terus dapat ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal. Setiap guru dalam Melaksanakan evaluasi harus paham dengan tujuan dan manfaat dari evaluasi atau penilaian tersebut. Tetapi ada juga guru yang tidak menghiraukan tentang kegiatan ini, yang penting ia masuk kelas, mengajar, mau ia laksanakan evaluasi di akhir pelajaran atau tidak itu urusannya. Yang jelas pada akhir semester ia telah mencapai target kurikulum. Ini yang menjadi permasalahan dalam dunia pendidikan saat ini. Hal ini terjadi karena beberapa sebab, yaitu:
1. Guru kurang menguasai materi pelajaran, sehingga dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak kalimatnya sering terputus-putus ataupun berbelit-belit yang menyebabkan anak menjadi bingung dan sukar mencerna apa yang disampaikan oleh guru tersebut. Tentu saja di akhir pelajaran mereka kewalahan menjawab pertanyaan atau tidak mampu mengerjakan tugas yang diberikan. Dan akhirnya nilai yang diperoleh jauh dari apa yang diharapkan.
2. Guru kurang menguasai kelas. Guru yang kurang mampu menguasai kelas mendapat hambatan dalam menyampaikan materi pelajaran, hal ini dikarenakan suasana kelas yang tidak menunjang membuat anak yang betul-betul ingin belajar menjadi terganggu.
3. Guru enggan mempergunakan alat peraga dalam mengajar. Kebiasaan guru yang tidak mempergunakan alat peraga memaksa anak untuk berpikir verbal sehingga membuat anak sulit dalam memahami pelajaran dan otomatis dalam evaluasi di akhir pelajaran nilai anak menjadi jatuh.
4. Guru tidak mempunyai kemajuan untuk menambah atau menimba ilmu, misalnya membaca buku atau bertukar pikiran dengan rekan guru yang lebih senior dan professional guna menambah wawasannya.
5. Guru enggan membuat persiapan mengajar atau setidaknya menyusun langkah-langkah dalam mengajar, yang disertai dengan ketentuan- ketentuan waktu untuk mengawali pelajaran, waktu untuk kegiatan proses dan ketentuan waktu untuk akhir pelajaran
6. Guru menyamaratakan kemampuan anak di dalam menyerap pelajaran. Setiap anak didik mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menyerap materi pelajaran. Guru yang kurang tanggap tidak mengetahui bahwa ada anak didiknya yang daya serapnya di bawah rata-rata mengalami kesulitan dalam belajar

Dari penjelasan di pembahasan tersebut yang saya pahami dalam bacaan tersebut tentang problematika evaluasi pembelajaran, jadi permasalahan evaluasi pembelajaran saat ini kurang nya Keterampilan guru atau strategi dalam proses belajar mengajar mengakibatkan siswa tersebut kurang memahami dalam aspek materi pembelajaran, ketika di saat proses evaluasi, contoh nya saja ketika guru mengadakan sesi pertanyaan secara acak kepada siswa nya, kebanyakan siswa belum memahami materi secara tuntas, maka hal ini guru harus intropreksi diri sendiri kenapa kebanyakan siswa yang di ajar nya di kelas itu belum memahami materi yang di sampaikan nya, maka seorang guru harus mengevaluasi proses belajar mengajar nya ketika mengajar mungkin mempersiapkan strategi mengajar nya, atau alat pendukung pembelajaran atau alat peraga dalam mengajar seperti infocus, power point dan lain-lainnya,  hal ini untuk mempersiapkan evaluasi kepada siswa nya sesuai kemampuan mereka masing-masing dalam memahami aspek materi

Jadi kesimpulan sistem evaluasi pembelajaran yaitu sistem yang mengumpulkan data-data peserta didik dalam memahami materi atau mengingat daya ingat mereka dalam belajar, contoh nya saja seperti ulangan harian, kuis, sesi tanya jawab dan ulangan semester, hal ini dapat mempermudah seorang guru dalam menilai kemampuan peserta didik dalam memahami mata pelajaran nya yang di ajar nya, bagi siswa ini menjadi tolak ukur kemampuan mereka untuk meraih ke jenjang selanjut nya atau tingkat selanjut nya dalam menguasai aspek materi pembelajaran dalam satu semester,  sistem evaluasi pembelajaran sangat berperan penting dalam dunia pendidikan, hal ini menjadi Dampak positif di terapkan sistem evaluasi pembelajaran bagi pendidik dan peserta didik bukan hanya saja sekedar menyimak, mencatat materi, memahami saja, akan tetapi dalam mengevaluasi pembelajaran saat ini di perlukan mengukur kemampuam peseta didik dalam memahami tiap mata pelajaran di sekolah