Kultur Sekolah

Nama: Muhammad Syaiful
Nim: 11901124
Kelas: PAI 4B
Judul Bacaan: Kultur Sekolah

Laporan bacaan dari tema kultur sekolah dari sumber jurnal Pemikiran Sosiologi, Kultur Sekolah, Penulis Ariefa Efianingrum, Volume 2, No 1 Mei 2013, Universitas Negeri Yogyakarta 

Link Jurnal: https://jurnal.ugm.ac.id/jps/article/view/23404/pdf

Saya akan memaparkan pembahasan kultur sekolah sesuai di sumber jurnal tersebut.  Terdapat sejumlah pengertian tentang kultur sekolah, antara lain yang dikemukakan oleh Deal & Peterson (2011) berikut ini: 
“School culture is the set of norms, values and beliefs, rituals and ceremonies, symbols and stories that make up the persona of the school. These unwritten expectation build up over time as teachers, administratirs, parents, and students work together, solve problems, deal with challenges and, at times, cope with failurues, For examples, every school has a set of expectations about wjat can be discussed at staff meetings, what constitutes good teaching techniques, how willing the staff is to change, and the importance of staff development. School culture is also the way they think their schools and deal with the culture in which they work”  (Deal & Peterson, 2011) 
Budaya sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Sedangkan menurut Schein (Peterson, 2002), budaya sekolah dimaknai sebagai: 
“School cultures are complex webs of traditions and rituals that have been built up over time as teachers, students, parents, and administrators work together and deal with crises and accomplishments. Cultural patterns are highly enduring, have a powerful impact on performance, and shape the essays people think, act, and feel” 
(Schein, Deal & Peterson, 2002). 
Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa.

Jadi menurut saya dari hasil pengertian kultur sekolah dari berbagai pendapat ahli dapat saya simpulkan kultur sekolah ialah budaya sekolah yang melakukan kegiatan positif yang mendorong  semua warga sekolah untuk melakukan kegiatan kerja sama, hal ini bertujuan untuk Memberikan gagasan-gagasan baru atau peningkatan kualitas mutu pendidikan di sekolah tersebut agar dalam pencapaian nya terlaksanaanya pembaharuan di sekolah, bukan itu saja ada faktor lain antara lain, kultur sekolah bisa mengevaluasi kinerja semua warga sekolah, seperti kepala sekolah, guru, staff tata usaha dan siswa nya, hal ini berdampak memberikan peluang kinerja semua warga sekolah bekerja sama,  profesional, bekerja secara efektif dan efisien,  maka kultur sekolah harus diterapkan di zaman sekarang dan terus kembangkan budaya sekolah di tiap sekolah di daerah. Apabila tidak menerapkan kultur sekolah ini maka sistem pendidikan di sekolah tersebut tidak tercapai dengan hasil atau tidak sesuai dalam visi misi pendidikan hal ini berdampak besar ke proses belajar mengajar yang kacau dan permasalahan yang tidak selesai-selesai di sekolah tersebut, maka penting nya peran kultur sekolah lebih mengetahui sistem pendidikan di sekolah tersebut, hal ini perlu ada kerja sama nya dari kepala sekolah, guru, administrator, orang tua dan siswa, maka hal ini sekolah terus mengevaluasi kekurangan sistem pendidikan yang telah diterapkan dan melakukan pembaharuan baru untuk memperlancar sistem pendidikan di sekolah agar menjadi lebih baik dalam urusan kinerja, sistem dan proses pembelajaran di sekolah tersebut 

Di pembahasan selanjutnya di jurnal tersebut yaitu pembahasan tentang Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah. Salah satu pendapat ahli mengutarakan pendapat nya untuk saya mendalami pembahasan ini, sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa kultur sekolah memiliki implikasi terhadap upaya perbaikan sekolah, seperti dikemukakan Deal & Peterson (2011). Namun demikian, dalam praktiknya kultur sekolah seringkali justru terlewatkan dalam upaya perbaikan sekolah antara lain: 
1. Culture fosters school effectiveness and productivity (Budaya mendorong terwujudnya efektivitas dan produktivitas sekolah). 
Guru dapat berhasil dalam memfokuskan budaya pada produktivitas, kinerja, dan upaya perbaikan. Budaya membantu para guru dalam mengatasi ketidakpastian pekerjaan mereka dengan memberikan fokus pada kolegialitas. Hal ini penting untuk memberikan motivasi sosial dalam suatu pekerjaan yang menuntut mereka siap mengajar tigapuluh anak di ruang kelas. Budaya mendorong, memberi sanksi, dan memberi penghargaan pada tugas profesional untuk meningkatkan ketrampilan mereka. 
2. Culture improves collegial and collaborative activities that fosters better communication and problem solving practices (Budaya meningkatkan kegiatan kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik pemecahan masalah). 
Di sekolah, budaya menghargai kolegialitas dan kolaborasi. Terdapat iklim yang lebih baik untuk mempertukarkan ide-ide sosial dan profesional, peningkatan dan penyebaran praktik-praktik yang efektif, dan meluas pada pemecahan masalah profesional. 
3. Culture fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan). 
Budaya beracun (toxic culture) mendukung mediokritas dan sikap apatis, yang tidak mungkin mendorong inovasi. Sebaliknya, di sekolah-sekolah yang menganut norma-norma kinerja perubahan, para staf dengan senang hati bereksperimen dengan menggunakan pendekatan baru, menemukan praktik-praktik inovatif untuk memecahkan masalah, dan memperkuat visi pembelajaran yang berfokus pada perbaikan sekolah. Budaya sekolah mendorong pembelajaran dan kemajuan dengan mengembangkan iklim yang kondusif untuk perubahan tujuan, dukungan untuk mengambil resiko dan eksperimentasi, serta semangat masyarakat menilai kemajuan tujuan. 
4. Culture builds commitment and identification of staffs, students, and administrators (Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para staf, siswa dan tenaga administrasi). 
Orang-orang termotivasi dan merasa berkomitmen pada suatu organisasi yang memiliki makna, nilai-nilai, sebuah tujuan yang memuliakan. Komitmen tumbuh dengan kuat dan memelihara kultur sosial. Identifikasi diperkuat dengan misi inspiratif yang jelas dan mengkristal yang dipegang teguh. Motivasi diperkuat melalui ritual yang memelihara identitas, tradisi yang mengintensifkan koneksi ke sekolah, dan upacara yang membangun komunitas. 
5. Culture amplifies the energy, motivation, and vitality of a school staff, students, and community (Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas/masyarakat). 
Iklim sosial budaya berpengaruh terhadap orientasi emosional dan psikologis para staf. Dalam sejumlah kasus, sekolah yang memiliki spirit optimis memiliki iklim yang positif, bersemangat, menghargai, dan mendorong. Sebaliknya, dalam sekolah yang pesimis, yang berkembang adalah kultur negatif dan lingkungan sosial yang negatif dan tidak produktif. 
6. Culture increases the focus of daily behavior and attention on what is important and valued (Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai/berharga). 
Meskipun aturan, job-description, dan kebijakan dapat membentuk dan mempengaruhi perilaku seseorang, namun dalam aturan yang tidak tertulis maupun kebiasaan dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari, seringkali justru lebih bermakna dalam mendorong aktivitas dan kemajuan yang berkelanjutan di sekolah. Asumsi-asumsi tersembunyi yang melekat dalam pola budaya lebih intensif. Dengan nilai yang kuat dan bermakna, pekerjaan sehari- hari menjadi lebih berfokus pada isu-isu penting seperti: kualitas pembelajaran, pengajaran yang kontinyu, dan akselerasi belajar bagi seluruh siswa. 

Dari pembahasan tersebut dari salah satu pendapat ahli, yang saya pahami yaitu dari pembahasan tentang implikasi terhadap upaya perbaikan sekolah, , implikasi nya dalam upaya perbaikan sekolah yaitu mencoba mencari suatu pendekatan model baru, inovatif untuk memecahkan suatu permasalahan di sekolah tersebut, bisa saja permasalahan dengan proses belajar mengajar ataupun permasalahan administrasi di sekolah, maka dalam hal ini berfokus untuk mengatasi atau memperbaiki permasalahan di sekolah, hal ini bertujuan mewujudkan  visi misi sekolah dan misi proses pembelajaran  dan memperkuat proses belajar mengajar dan mengembangkan suatu sistem baru yang efektif dan efisien sesuai kondisi sekarang di zaman digitalisasi agar situasi tersebut mengalami perubahan tujuan dan menjadi lebih baik kedepan nya di sekolah tersebut . faktor faktor yang mempengaruhi untuk kegiatan perubahan dan perbaikan di sekolah, bisa saja prestasi sekolah,  budaya belajar positif dan proses belajar mengajar dikelas, dan  kepala sekolah atau pimpinan sekolah perlu membangun suatu komunikasi tujuan visi dan misi yang sama dan juga hubungan yang harmonis kepada semua  warga sekolah, hal ini bertujuan untuk membentuk budaya sekolah dengan sukses di sekolah nya 


Di pembahasan selanjutnya di jurnal tersebut yaitu tentang aneka praktik pengembangan kultur sekolah
Yang saya pahami dari pembahasan tersebut yaitu, dalam pengembangan ini semua sekolah melaksanakan praktik ini. Pengembangan kultur semua sekolah di laksanakan sesuai dengan aspek yang penting di sekolah nya, ada beberapa faktor yang penting di antara yaitu visi-misi, kondisi dan potensi sekolah, tiap sekolah sering menggunakan dua aspek saat melaksanakan kultur sekolah, diantara dua aspek tersebut, aspek  prestasi akademik  maupun non akademik. Hal ini berdampak kualitas layanan pendidikan di sekolah tersebut  agar siswa banyak memanfaatkan fasilitas penunjang pembelajaran agar siswa tidak merasa kepayahan atau sulit memanfaatkan layanan atau fasilitas di sekolahnya, faktor tersebut ketika melaksanakan kultur sekolah menggunakan aspek prestasi akademik, dan ketika menggunakan aspek non akademik dalam melaksanakan kultur sekolah,  keahlian, minat, bakat dan keterampilan siswa terlihat tidak hanya focus ke akademik saja, maka pihak sekolah tersebut  tidak membedakan-bedakan siswa yang prestasi di akademik dan non akademik , siswa mengikuti kegiatan non akademik, hal ini bertujuan untuk memberikan suatu ruang kepada siswa untuk berpartisipasi, berkreasi, mencari suasana baru yang sesuai dengan minat dan keterampilan nya dan inovatif menggunakan ide-ide baru untuk mengembangkan minat dan keterampilan di non akademik, ada beberapa sekolah yang masih menerapkan pada aspek prestasi akademik dan tidak menerapkan aspek non akademik. Sebaiknya pihak sekolah menerapkan aspek kedua-keduanya  saja agar sekolah tersebut seimbang di dalam akademik